Stasiun, Perpisahan, dan Pertemuan

Kereta sebuah simbol kehidupan. Lokomotif adalah kita, rel adalah waktu kita, dan gerbong beserta isinya adalah semua hal yang kita dapatkan, kita rasakan.

Bak kereta, kita hidup membawa beban yang kian bertambah sejalan bertambahnya umur kita. Bak kereta, semakin lama kita berjalan di rel kehidupan, akan semakin banyak yang kita dapatkan, kita rasakan.

Sembari membawa beban, kadang kita juga dihadang oleh kayu dan batu. Ya itulah kehidupan. Cukup yakinkan diri bahwa roda akan terus melaju menerabas semua itu.

Namun, kadang kita juga perlu berhenti sejenak di stasiun pemberhentian jiwa dan raga, mengisi motivasi dan semangat untuk kedepannya.

Pada suatu saat, rel akan mencapai batasnya, kita harus berhenti.

Tentang Perpisahan

Stasiun menyaksikan lebih banyak tangisan dan kesedihan daripada pemakaman.

Ada yang meninggalkan orang tuanya, sahabat dekatnya, guru-gurunya, suami atau istrinya, saudaranya, kakek neneknya, dan tentu kampung halamannya.

Air mata yang biasanya tersimpan, tiba-tiba tak terbendung, mengalir membasahi pipi, menembus hati yang risau, mawas, dan bimbang.

Tangisan dan kesedihan itu melebur dalam gerbong-gerbong dan hanyut di perjalanan yang panjang.

Gerbong itulah yang membawa banyak manusia menemukan jalannya, menemukan kisahnya, dan menemukan titik balik kehidupannya.

Di balik tangisan dan kesedihan itu, ada masa depan cerah yang menunggu. Manusia tidak akan sempurna tanpa mengalami perpisahan yang pedih dan menyakitkan.

Perpisahan membuat jiwa sayang dan cinta kita tumbuh mekar dan indah menawan saat waktu pertemuan tiba.

Di tengah perjalanan yang panjang itu, rasa sedih menjadi teguh, rasa bimbang menjadi lebih seimbang, rasa takut menjadi berani. Insting manusia bekerja, mencari kesempatan dan melupakan ke-melankolis an hidup.

Tentang Pertemuan

Stasiun lebih banyak menyaksikan kebahagiaan daripada tempat pelaminan.

Tanpa perpisahan, pertemuan tak akan pernah terjadi. Sebuah pertemuan mengeratkan tali kisah, tali keluarga, dan tali rasa yang telah dipendam lama.

Binar mata cerah, sambutan meriah, dan senyum yang merekah menyambut seseorang di depan pintu keluar stasiun. Di tengah puluhan orang dalam kondisi sesak pun, pujaan jiwa belahan hati terlihat mencolok dan begitu berwarna.

“Ini dia orang yang ditunggu-tunggu.”

Selama kita masih berjalan di rel kehidupan, perpisahan dan pertemuan pasti akan terjadi.

Di dalam perpisahan ada kesedihan, kerinduan, dan rasa sayang. Di dalam pertemuan, ada kebahagiaan, kedamaian, dan rasa bosan. Manusia harus pulang, manusia harus pergi, agar jiwa tidak melunak, berkarat, dan pada akhrinya mati pada.

Bagikan:
HUD
HUD

Mahasiswa, masih nganggur, kadang suka nulis, ya gitu aja sih.

Articles: 10

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *