Skala Likert Ordinal atau Interval?

Disclaimer: Artikel ini adalah pendapat saya sebagai seorang mahasiswa pendidikan, bukan sebagai ahli statistika atau penelitian dan evaluasi pendidikan (PEP).

Saat sedang melakukan analisis data hasil kuesioner, saya terbentur sebuah fakta kontroversi seputar skala likert. Apakah skala likert dapat dianalisis secara inferensial parametrik? Pada saat itu, saya ingin mencoba melakukan uji beda (t) untuk data kuesioner skala likert opsi 1-5. Ternyata, pertanyaan skala likert ordinal atau interval telah terjadi di lama.

Disinilah letak dosanya: hanya dengan mengekspresikan data ordinal menggunakan bilangan bulat tidak membenarkan penggunaan statistika (Kuzon dkk., 1996).

Bahkan sebelum saya lahir pun, ternyata skala likert atau summated scale ini telah melahirkan pro dan kontra. Menarik…

Kenapa Pertanyaan itu Muncul?

Mari kita bahas terlebih dahulu kenapa pertanyaan “skala likert ordinal atau interval?” bisa muncul. Seperti pengalaman saya, satu alasan di antaranya adalah penggunaan statistik parametrik dari data skala likert.

rensis likert

Sederhananya, statistik parametrik dapat dilakukan dengan syarat:

  1. Sampel acak dari populasi berdasarkan metode sampling yang dibenarkan
  2. Data bersifat interval atau rasio
  3. Distribusi data normal

Disinilah awal pertanyaan itu muncul. Statistik parametrik yang sering dibutuhkan dan dianggap lebih powerfull hanya boleh dilakukan dengan pada data interval dan rasio. Sedangkan standar-nya skala likert yang diciptakan oleh Rensis Likert tahun 1932 adalah skala ordinal.

Artinya, kita tidak boleh uji parametrik terhadap data skala likert karena data tersebut bersifat ordinal.

Mengenal Data Ordinal

Singkatnya, data ordinal adalah jenis data kategori dengan urutan, dimana jarak antar urutan tersebut tidak pasti dan tidak terukur. Data ordinal tidak hanya mengkategorikan, namun juga merangkingkan kategori tersebut (Ghozali, 2021) 1Ghozali, Imam. 2018. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS. 25. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Data ordinal hanya dapat dianalisis dengan statistik dasar (modus, median, distribusi frekuensi) dna statisik non-parametrik. Data ordinal tidak boleh dianalisis dengan statistik parametrik.

Kenapa nggak boleh?

Salah satu syarat matematis statistik parametrik adalah konsistensi antar nilai data yang sama atau data harus memiliki distribusi konstan pada seluruh rentang data. Gambarannya begini:

skala ordinal dan interval

Data ordinal adalah data kualitatif yang dikuantitatifkan secara kategori, dimana jarak antar kategori tersebut tidak terukur dan tidak pasti, Apa?. Itulah yang menyebabkan tidak semua operasi matematika dapat dilakukan. Bahkan bisa dikatakan operasi matematika pada skala ordinal tidak selalu bermakna.

Skala Likert Ordinal atau Interval?

Skala likert yang paling sering digunakan adalah skala likert opsi 1-5, beberapa peneliti berpandangan yang paling stabil adalah skala likert opsi 1-7.

Skala likert jika jarak antara skala dibuat sama atau konstan, maka menjadi skala interval (Ghozali, 2021; 5).

Pertanyaannya, bagaimana menjadikan skala likert memiliki jarak yang konstan atau sama? Apakah dengan membentuk paradigma penyusunan opsi saat mengembangkan kuesioner? Atau dengan method of successive interval?

Cooper dan Schindler (2003) mengemukakan bahwa skala pengukuran sikap dengan skor 4, 3, 2, 1 adalah data interval karena jaraknya sama. Uma Sekaran dalam buku Research Methods for Business, dan Parasuraman dalam buku Delivering Quality Service, menyatakan bahwa skala sikap (likert, semantic differential, Thurstone) merupakan skala interval (Sugiyono, 2022; 10)2Sugiyono. 2022. Metode Penelitian Kuantitatif. Alfabeta.

Jika kita berpatokan pada Prof. Sugiyono, maka kemungkinan besar skala likert adalah skala interval. Namun jujur, saya sendiri juga tidak begitu paham tafsir “jaraknya sama” menurut pendapat yang disetujui Prof. Sugiyono tersebut seperti apa.

Asumsi kami, maksudnya adalah penyusunan opsi dalam skala likert dilakukan secara sengaja dengan cara yang baik, sehingga dianggap jarak antara nilai adalah sama. Sayangnya, bagaimana skala likert disusun, logika sederhana saya adalah, “Apakah tendensi persetujuan satu orang dengan orang lain sama? Tentu saja beda. Tidak ada indikator pasti seseorang dikatakan setuju, tidak setuju, atau netral dalam menentukan kecenderungan.”

Mungkin ada pembaca yang bisa menjelaskan kenapa saya maksud dari “jaraknya sama” dalam skala likert itu bagaimana, silakan comment.

Dalam skala interval, jarak antara nilainya sama meskipun tidak memiliki nilai nol mutlak, misalnya suhu badan. Jaraknya jelas, ada satuannya. Contoh lainnya mungkin adalah jam, jaraknya jelas, detik, menit, dan jam.

Nah, sekarang skala likert itu apa jaraknya? Jarak apa yang sama dalam skala likert? Aturan apa yang membuat skala likert memiliki kategorisasi opsi jawaban yang berjarak sama?

Mungkin ilmu saya terlalu terbatas, sehingga teman-teman, pembaca, atau ahli lain yang bisa menjawab pertanyaan saya bisa comment dan berdiskusi

Satu dari Tujuh Dosa Besar Statistika

Kuzon dkk. (1996)3Kuzon, W. M., Jr, Urbanchek, M. G., & McCabe, S. (1996). The seven deadly sins of statistical analysis. Annals of plastic surgery37(3), 265–272. https://doi.org/10.1097/00000637-199609000-00006 secara eksplisit dan gamblang menyebut bahwa “Using parametric analysis for Ordinal Data” adalah satu dari tujuh “Deadly Sin” dalam analisis statistik. Saya rasa ini adalah topik serius.

Kita tidak boleh menyepelekan persyaratan jenis data dalam proses penggunaan analisis statistik. Alat statistik—SPSS misalnya, akan selalu mengeluarkan output dari data apapun yang kita masukkan, terlepas salah tidaknya data tersebut. Melihat hal ini, kontrol kebenaran dan kejujuran mutlak dimiliki oleh peneliti.

Menganalisis data ordinal dengan statistik parametrik kemungkinan besar akan melahirkan kesalahan interpretasi dan berakhir pada kesalahan penelitian. Kesalahan tipe I dan II pun tidak dapat diterapkan dalam konteks ini, sebab dasarnya saja salah. Jika skala likert naik pangkat dari ordinal menjadi interval, maka kami rasa harus ada dasaran yang kuat dan aturan yang jelas.

Jangan sampai, ada kesan memaksakan analisis data. Jangan gara-gara statistik parametrik tampak lebih keren dan powerfull, lantas kita membenarkan tindakan mem-parametrik-kan data ordinal.

Ada banyak kesalahan penelitian pendidikan yang sudah menjamur, salah satunya adalah penggunaan alat statistik yang salah (Picho & Arino, 2016)4Picho, K., & Artino, A. R., Jr (2016). 7 Deadly Sins in Educational Research. Journal of graduate medical education8(4), 483–487. https://doi.org/10.4300/JGME-D-16-00332.1. Analisis data ordinal dapat dilakukan dengan statistik non-parametrik, sudah ada porsinya masing-masing.

Kesimpulan Saya

Untuk saat ini, saya cenderung percaya bahwa skala likert adalah skala ordinal, bukan interval. Saya belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk mengatakan bahwa skala opsi skala likert memiliki jarak yang sama.

Namun saya sangat menerima diskusi jika tidak sependapat. Masih banyak sekali litelatur yang belum saya baca, sehingga mungkin teman-teman dapat menunjukkan litelatur tersebut.

Setelah membaca tulisan saya, menurut Anda skala likert ordinal atau interval?

Referensi

  • 1
    Ghozali, Imam. 2018. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS. 25. Badan Penerbit Universitas Diponegoro
  • 2
    Sugiyono. 2022. Metode Penelitian Kuantitatif. Alfabeta
  • 3
    Kuzon, W. M., Jr, Urbanchek, M. G., & McCabe, S. (1996). The seven deadly sins of statistical analysis. Annals of plastic surgery37(3), 265–272. https://doi.org/10.1097/00000637-199609000-00006
  • 4
    Picho, K., & Artino, A. R., Jr (2016). 7 Deadly Sins in Educational Research. Journal of graduate medical education8(4), 483–487. https://doi.org/10.4300/JGME-D-16-00332.1
Bagikan:
HUD
HUD

Mahasiswa, masih nganggur, kadang suka nulis, ya gitu aja sih.

Articles: 10

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *