Tukang Parkir Bikin Resah, Hufh!

Bagun tidur, perut lapar, starter sepeda motor, pergi ke tempat makan.

Ya itulah, rutinitas saya tiap hari saat sebagai anak indekos. Jarang sekali saya makan di tempat. Ke warung hanya mampir, ambil makan, bungkus, bayar, terus pulang.

Perjalanan dari indekos ke warung makan itu sebenarnya lancar-lancar saja. Enjoy, tenang, dan bahagia. Masalah hadir ketika saya berbalik badan setelah bayar makan. Saya lihat mas-mas tukang parkir (kadang ibuk-ibuk malahan) duduk di depan warung. Ya hanya duduk disitu—nggak ngapa-ngapain.

Padahal sebelum masuk warung nggak ada orang lho disitu, kosong. Tapi tiba-tiba ada. Dalam hati aku bergumam, “Kok bisa orang ini tiba-tiba muncul disitu, darimana? sejak kapan?”

Semangat saya di awal burubah menjadi emosi hangat. Ketengan berubah menjadi kegundahan. Kebahagiaan seketika sirna. Masam muka saya mencari uang receh yang nyelip di saku celana.

Ya sebenarnya sih nggak mahal-mahal amat. Tapi kalau kang parkir yang bilang, rasanya kok bikin emosiku memuncak.

“Dua ribu mas,”

Tiga kata. Ya benar, hanya tiga kata. Tapi maknanya sangat dalam dan menusuk hati.

 “Hah! Saya bahkan nggak duduk di dalam warung lho. Aku hanya ambil makan, bayar makan, terus keluar. Ya masak harus bayar sewa lahan beberapa cm2 untuk ban sepeda motor saya?

Tukang Parkir vs Sewa Lahan

Saya kadang berpikir mendalam, apa sih fungsi tukang parkir disitu?

Merapikan sepeda motor? Ya nggak begitu perlu sih, perlu hanya kadang-kadang perlu saja pas rame banget—jarang banget.

Menyebrangkan customer? Nggak juga. Sering sekali saya nyebrang sendiri, tapi cuman dilihatin aja tuh sama kang parkir.

Bertanggung jawab terhadap sepeda motor? Yang ini belum saya buktikan sih. Misal ada barang di sepeda motor yang hilang atau rusak, beliau-nya mau bertanggungjawab atau tidak.

Saya pikir, tugas tukang parkir itu ya itu semua. Mulai dari menata sepeda motor atau mobil, menjaga keamanan serta kebersihan, dan nyebrangin (sebelum dan sesudah). Jadi nggak hanya nyebrangin saat mau terima uang aja…

Tapi kebanyakan, semua tugas itu terabaikan. Tukang parkir ada hanya saat dia mau terima uang saja. Orang yang kesitu nggak ngapa-ngapain, bahkan nggak jadi beli makan pun kena tarik uang parkir Rp2000,-. Itu harga yang sangat mahal untuk orang yang nggak jadi ngapa-ngapain.

Jatuhnya jadi kayak sewa lahan parkir dengan bunyi aturan “0-24 jam pertama = Rp2000,-“

Meskipun beliau-beliau tidak mengerjakan tugas-tugas selayaknya kang parkir yang benar, ya saya rasanya tetep tertekan dan merasa wajib bayar. Sehingga, saya berkesimpulan uang tersebut saya bayarkan untuk sewa lahan parkir, bukan jasa kang parkir.

Secara matematis, ketika saya beli makan 12 ribu, parkirnya 2 ribu, maka kalau dipersentasekan, uang parkirnya = 14%-15%. Pajak tahunan saja kalah. Secara kalkulatif, itu bukan lagi biaya parkir, tapi palak parkir.

Yang lebih menyebalkan lagi, itu terjadi di tempat yang sebenarnya nggak butuh kang parkir.

Beda lagi kalau di mall, tempat konser, parkir di pinggir jalan raya, pasar induk, dan lain-lain. Saya yakin mereka resmi dan memiliki seragam yang resmi. Bahkan kadang parkirnya gratis.

Tapi kalau hanya di warung makan, ATM, indomaret atau alfamart yang nggak ruame banget, nggak perlu lah ada tukang parkir. Lebih parah lagi kalau di depan alfamart atau indomaret tersebut sudah ada tulisannya, “PARKIR GRATIS”.

Kenapa coba?

Ya karena jaraknya terlalu dekat untuk menjadikan kita lengah dengan sepeda motor kita. Kita bisa tiap detik lihat sepeda motor kita yang sedang diam membisu nggak ngapa-ngapain.

Saya beli makan hanya 10 menit—bahkan bisa saja 5 menit. Saya ke ATM, mungkin kalau nggak antri cuman 3 menit. Kalau antri ya mungkin 10-15 menit—itupun 80% dari waktu tersebut kita berada di luar ATM dan dekat dengan sepeda. Jadi nggak perlu dijaga pun, saya yakin 95% sepeda motor bakalan aman.

Bikin Resah dan Males

Adanya kang parkir kadang bikin males ke warung. Ini juga banyak dirasakan oleh orang, nggak hanya diriku.

Yang bikin kesal lagi, kang parkirnya masih sangat muda. Saya yakin dia pasti bisa lah mencari kerja yang lebih baik daripada kang parkir tempat yang nggak perlu kang parkir.

Sekali parkir memang dua ribu, tapi saya ke warung tersebut 2x sehari dalam 30 hari sebulan. Artinya saya harus mengeluarkan sekitar 100-120 ribu per bulan, hanya untuk tukang parkir yang hanya ada ketika saya hendak meninggalkan tempat. Nggak adil rasanya!

Mungkin saya bakalan rela ngasih kalau kang parkirnya rajin. Seperti bersih-bersih, menata sepeda, dan berdiri siap-siap menerima pelanggan di depan sedang gabut. Lha seringkali kang parkir di tempat-tempat yang nggak semestinya itu hanya duduk, ngobrol sama geng-nya, main hp, nyedot rokok, nonton youtube, ig-an, wa-an, tapi pas saya keluar tahu-tahu nongol aja terkesan minta uang. Kan ya kesel…

Sudah lah, intinya kang parkir itu kalau di tempat yang nggak seharusnya minimal kelihatan kerja. Kalau nggak, mending nggak usah disitu, mengganggu pemandangan, bikin geram!

Kang parkir ya harus sadar diri gitu lho… Kalau ada orang masuk ke warung atau ATM hanya beberapa saat aja, ya jangan narik uang dong! Jangan juga sebel kalau nggak dikasih. Sadar diri kalau jasa Anda tidak begitu dibutuhkan disitu! Heran…

Reaksi Anda?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Bagikan:
HUDA
HUDA

Sekarang mahasiswa, besok nggak tahu, masih nganggur, kadang suka nulis, kadang suka tidur, ya gitu aja sih. Motto hidup, "Jangan kebanyakan ber-motto"😅

Articles: 17

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *