Pengalaman Review Jurnal Internasional: Nggak Dapat Apa-Apa

Entah sudah berapa kali saya mereview jurnal terindeks Scopus, mulai Q3 sampai Q1. Mulai dari terbitan publisher tak terkenal, hingga Springer. Rata-rata topiknya adalah pendidikan, penilaian, dan beberapa kali tentang Rasch Measurement. Entah siapa yang merekomendasikan. Tapi kayaknya pilihan random dari editorial jurnal saja.
Tulisan Ini Ada Karena Saya Kesal
Tulisan ini sebenarnya saya tulis karena kesal, sebab mulai 30 Oktober 2026, UNY akan menghapus email alumni mahasiswa tahun 2025 dan sebelumnya. Mengesalkan, karena saya selalu pakai email ini untuk kepentingan akademik, saat dan setelah kuliah. Padahal, email UNESA saya sejak 2018, masih aktif hingga sekarang. Sudah 7 tahun lebih.
Entah apa penyebabnya, yang jelas ini cukup merugikan bagi saya. Apalagi semua korespondensi terbitan artikel jurnal saya pakai email UNY. Kalau korespondensi portofolio, media sosial, akun perbankan, dan sejenisnya mungkin bisa diganti dengan mudah, tapi kalau korespondensi artikel jurnal, itu sudah melekat saat penerbitan. Misal toh bisa diganti, ribet juga harus ngurus mengajukan ke editorial jurnal. “Ngapain juga…”
Bukan karena apa, beberapa terbitan artikel saya itu berisi validasi instrumen. Banyak yang email saya ke alamat email UNY saya (nurhuda.2022@student.uny.ac.id) untuk meminta izin penggunaan instrumen (adopsi). Ini adalah bagian dari etik penelitian, kalau email tersebut terhapus, bagian kecil proses etik ini tentu saja akan terganggu. Selain itu, semua pengajuan review oleh editorial jurnal juga selalu pakai email kampus ini. Haduh, nggak tahu lagi lah…
Menurut saya, seharusnya UNY memberikan opsi pengajuan pengaktifkan kembali email bagi mahasiswa yang memiliki kepentingan, seperti memiliki terbitan artikel jurnal atau sejenisnya. Saya sangat tidak masalah tidak dapat gratis Zoom, Drive, atau layanan sejenisnya, tapi layanan kirim dan menerima email harusnya tetap aktif, sebab ini masalah korespondensi jurnal.
Dalam hati saya, “Tahu begitu, dulu saya nggak pakai email UNY untuk korespondensi jurnal. Mending pakai email UNESA saja.”
Karena alasan inilah, saya menulis artikel ini. Karena mungkin review jurnal yang saya lakukan kemarin adalah review terakhir. Dengan tidak aktifnya alamat email UNY saya, maka tidak akan ada proses izin penggunaan instrumen yang saya kembangkan dan tidak ada pengajuan review dari editorial jurnal. Cukup mengesalkan, tapi mau gimana lagi. Saya hanya alumni.
Bila email saya terhapus, siapa pun yang butuh mengirim pesan ke email nurhuda.2022@student.uny.ac.id silakan langsung email pribadi saya ke: hud@mashuda.id.
Review Jurnal: Bukan Tanda Hebat
Okey, kita lupakan kesalnya. Kita bahas topik kita hari ini.
Banyak orang bilang, “Keren ya, review jurnal Q1, Q2, dst.”
Sebenarnya nggak keren. Sebab, review jurnal adalah kewajiban kita sebagai seorang yang pernah meneliti. Kita tidak hanya diwajibkan untuk research dan memublikasikan artikel, tapi juga melakukan review (baca: peer reveiw).1 2
Saya mau bilang, me-review adalah konsekuensi dari menulis. Timbal balik dalam proses ilmiah.3
Maka dari itu, asalkan kualitas artikel yang Anda terbitkan bagus, dijamin bakalan banyak editorial jurnal yang tiba-tiba kirim email diminta review artikel yang akan mereka terbitkan. Jadi apakah review jurnal hebat? Tidak juga. Justru yang hebat adalah meneliti dan menulis dengan benar dan bagus.
Dalam hal mereview artikel ilmiah, kadang saya sampai malas. Ada satu jurnal Q2 yang terus menerus email untuk minta review. Tidak pernah saya terima, karena ya malas saja. Wong nggak dapat apa-apa juga kok.
Review Jurnal Nggak Dapat Apa-apa

Ya sebenarnya sih dapat. Kayak misalnya sertifikat reveiwer, tambahan profile akademik makin bagus karena terhubung ke ORCHID kita, ada yang memberikan semacam access pada jurnal-jurnal berbayar, dan terus “katanya” beberapa jurnal ada yang ngasih gratis bonus APC. Entahlah, selama saya review yang saya dapat hanya tempat marah-marah. Karena beberapa artikel yang saya review “kualitasnya kurang”.
Bayangkan, dengan pengetahuan se-iprit yang saya punya ini, ada banyak sekali catatan-catatan, apalagi kalau yang review adalah ekspert. Lebih-lebih kalau dari jurnal-jurnal yang bukan penerbit besar, ada artikel yang saya review yang kualitas metodologinya memang “buruk”.
Kembali ke topik…
Secara etik, kompensasi berupa uang memang ditakutkan melahirkan “conflict of interest“.4 Semacam bentrok kepentingan. Kalau ada uang di balik review, ditakutkan nanti orang pada nyari job nge-review jurnal, sehingga kualitas review-nya bisa menurun karena pergeseran orientasi. Meski demikian, mereview artikel orang itu butuh tenaga, pikiran, dan waktu. Maka seharusnya ada kompensasinya, tidak harus dalam bentuk uang.
Jurnal-jurnal yang bukan penerbit besar, mereka biasanya main lempar saja reviewer, selesai, sudah. Mereka bisa ambil “secuil uang” dari publication fee yang penulis bayarkan. Sedang reviewer nggak dapat apa-apa, hanya dapat capek dan hilangnya waktu.
Itulah mengapa, harus ada skema khusus untuk memberikan kompensasi yang memadai untuk reviewer jurnal. Bisa dalam bentuk skema bantuan APC, akses ke jurnal-jurnal berbayar, dan lainnya. Pokoknya, jangan hanya kompensasi non-materiil.
Terus, Duit Publikasi Jurnal Dipake Untuk Apa?

Kalau reviewer nggak dapat apa-apa, kita bayar ke editorial jurnal dalam bentuk APC (Article prosesesing charge) atau publication fee untuk apa?
Kita perlu tahu bahwa editorial jurnal itu butuh operasional yang banyak. Mulai dari keperluan website (hoting, domain, operator teknis website, dll.), langganan iThenticate, bayar DOI, indeksasi Scopus, pajak, dll. Pengelola jurnalnya pasti juga butuh digaji. Masa sih sudah kerja capek-capek nggak dapat apa-apa. Editorial jurnal juga manusia, butuh makan.
Namun kadang ada editorial jurnal yang nakal. Praktik berlebihan pada publikasi jurnal bisa dilakukan, seperti menerbitkan dalam jumlah yang terlalu banyak dalam satu volume penerbitan. Sehingga APC yang didapatkan banyak, “uang capeknya” juga banyak. Sebenarnya ini adalah asumsinya saya semata, tapi cukup masak akal kan? Yang jelas ada permainan bisnis di ranahyang katanya “untuk membangun peradaban manusia” ini.
Merasakan “Review Formalitas”
Saat melakukan review, saya selalu berpikir, “Kayaknya review saya ini hanya dijadikan proses formalitas dari editorial jurnal. Buat apa saya serius-serius. Toh akhirnya nggak terlalu dipakai.”
Rasa review formalitas ini muncul bukan tanpa sebab. Dulu saya pernah melakukan review pada satu artikel. Hanya satu kali putaran. Tiba-tiba hilang, tanpa kabar. Seharusnya, ada putaran terus menerus sampai reviewer dan penulis sepakat pada satu hal yang perlu diluruskan. Ini nggak, satu putaran tiba-tiba hilang. Padahal saya sudah serius ngasih arahan.
Suatu hari, saya iseng cari judul artikel tersebut. Ternyata sudah terbit. Saat saya cek, boom! Artikel terbit bersih hampir sama seperti sebelum saya kasih review. Artinya, saya capek ngetik, ngasih saran gratis, dan memberikan catatan-catatan detail perbaikan itu percuma, hilang menguap begitu saja. Nyeseknya, tidak ada ucapan terima kasih dari editorial, tidak ada sertifikat, dan hanya rasa kecewa. Jangankan terima kasih, ngasih kabar saja nggak.
Sejak itulah, saya pilih-pilih. Saya hanya akan mau menerima review pada artikel dan jurnal-jurnal yang “sekiranya” serius. Artinya, jurnal yang menganggap peer review adalah bagian penting yang harus dilakukan. Bukan hanya formalitas semata.
- Scanes, C. (2008). Peer Review: Responsibilities of Researchers to Review Papers. Poultry Science, 87, 2435-2435. https://doi.org/10.3382/ps.2008-87-12-2435 ↩︎
- COPE. (2017). Discussion document: Ethical guidelines for peer reviewers. Committee on Publication Ethics. https://doi.org/10.24318/cope.2019.1.9 ↩︎
- Glonti, K., Cauchi, D., Cobo, E., Boutron, I., Moher, D., & Hren, D. (2019). A scoping review on the roles and tasks of peer reviewers in the manuscript review process in biomedical journals. BMC Medicine, 17. https://doi.org/10.1186/s12916-019-1347-0 ↩︎
- Fund, S., & Dyke, G. (2024). Is the tail wagging the dog? Understanding the value of incentives in peer review. Information Services and Use, 44, 229 – 235. https://doi.org/10.3233/isu-240003 ↩︎




