Riset Palsu, Konferensi Internasional, dan Oportunisme Peneliti

Berkali-kali saya katakan di tulisan sebelumnya, “Karya ilmiah yang disusun secara benar saja, belum tentu bermanfaat, apalagi bila disusun dengan cara yang tidak benar.”

Satu hal yang saya takutkan selama ini benar-benar terjadi. Keresahan saya di dalam artikel ini:

  1. Dasar Teori ChatGPT
  2. Integritas Penelitian Indonesia

benar-benar telah terjadi. Oknum-oknum yang dulu hanya coba-coba pakai AI untuk bantu tulis karya ilmiah, sekarang terang-terangan berani unjuk diri dengan riset palsu di panggung konferensi internasional. Ngeri banget!

Latar Belakang Kasus

Ada postingan Instagram dari @mandharabrasika yang intinya, membahas bahwa ada seseorang yang mempresentasikan karya ilmiah di konferensi internasional dengan “cara yang janggal”. Ini postingan instagramnya:

Saya sebut inisial nama pelakunya dengan P, RF, dkk. Mereka “secara etik” melakukan pelanggaran yang “sangat serius” bila ditinjau dari dunia penelitian ilmiah.

P dkk. daftar di konferensi The International Society of Pneumonia & Pneumococcal Diseases 2026 (ISPPD 2026) di Kopenhagen Denmark. Ini konferensinya: http://isppd.kenes.com/.

ISPPD 2026

Kasus ini mencuat bukan karena penyelenggara konferensi, tapi karena kecurigaan mahasiswa Indonesia di Eropa yang ikut di ISPPD 2026 tersebut. Kecurigaan tersebut terjadi bukan tanpa alasan:

  1. Ada peneliti Indonesia, tapi penelitian mereka dilakukan di negara lain tanpa kolaborasi dengan peneliti lokal. Ini nggak hanya janggal, tapi ganjal, benar-benar mengganjal
  2. Presentasi satu orang, berganti nama, kostum, dan nametag agar kelihatan berbeda
  3. Dicek afiliasinya ternyata palsu dan ngarang dibuat-buat
  4. Penggunaan AI dalam riset yang dilakukan (terbukti dari adanya dua riset berbeda dengan kesimpulan yang sama)

Bagaimanapun latar belakang oknum ini, yang jelas ini bukan kesalahan penelitian biasa dan bukan juga research error yang terjadi tanpa sengaja.

Saking parahnya kasus ini dalam konteks penelitian ilmiah, saya merasa, “Mereka ini kok bisa ya? Benar-benar sangat niat, sangat terorganisir, beraninya luar biasa, tampak seperti sudah biasa melakukan hal-hal semacam itu, kok bisa gitu lho?”

Antara kaget, sedih, dan takjub. “Ternyata kesalahan-kesalahan penelitian yang saya duga selama ini tidaklah seberapa. Di lapangan, kondisinya jauh lebih parah dari apa yang saya pikirkan. Bila ditelaah dalam-dalam, hampir semua pelanggaran penelitian benar-benar diterabas oleh oknum-oknum ini.”

Membandingkan dengan Pengalaman Pribadi

ICEDU 2024 konferensi internasional

Dulu, saya juga pernah ikut konferensi internasional. Bukan di negara maju dan bukan pula mempresentasikan topik yang luar biasa berat seperti di ISPPD Kopenhagen. Saya ikut konferensi pendidikan, namanya The 10th International Conference on Education (ICEDU 2024) di Sri Lanka. Baca ceritanya disini.

Tebak apa yang saya rasakan?

Takutnya tidak kepalang. Apalagi bahasa Inggris saya bener-bener kurang bagus.

Selain kendala bahasa, saya merasa penelitian saya kurang bagus untuk dipresentasikan, karena hanya validasi instrumen saja. Terus takut dihina dan mempermalukan nama Indonesia. Kebetulan saat itu dihadiri 200-an peneliti dari 30 negara (mulai dari China, Norway, Hongkong, USA, Jerman, Sri-Lanka, India, dan lain-lain).1

Intinya, saya tidak ingin malu-maluin. Itu aja!

Berdasarkan pengalaman tersebut, saya bener-bener heran dengan kasus ini. Kok bisa ada orang, pakai riset palsu, pede presentasi, di depan para ahli? Kok bisa?

Asumsi saya, mereka ini berpengalaman. Mereka tahu betul bahwa konferensi internasional itu bukanlah forum justifikasi, tapi forum diskusi. Tidak ada penolakan dan penghakiman di konferensi. Adanya diskusi hangat, rencana kolaborasi, dan komunikasi yang intens. Sangat berbeda dengan submission editorial jurnal yang ketat dan bahkan galak.

Asumsi saya bukan tanpa alasan, saya merasakan itu soalnya.

Saat konferensi internasional kala itu, meski penelitian yang saya presentasikan kurang keren, apresiasi dari orang luar negeri itu sangat luar biasa.

Meski saya jawab pertanyaan dengan seadanya, mereka sangat membuka diskusi. Sangat welcome memberikan masukan dan saran. Mereka tidak segan untuk mengajak kolaborasi, bertanya tentang arah penelitian ke depan, dan memuji penelitian kita (meski kurang keren). Pokoknya sangat hangat lah.

Bahkan saat saya papasan dengan conference co-chair, dia berkata, “Good presentation.”

Hati saya senengnya bukan main. Nggak tahu itu menghina atau memuji, yang jelas saat itu saya seneng banget. Konferensi internasional pertama itu, bahkan menjadi satu pengalaman luar biasa dalam hidup saya.

Mental “Yang Penting Gratis”

Sisi lain dari konferensi internasional yang hampir semua peneliti tahu adalah:

Saat konferensi internasional, satu momen yang nggak wajib tapi dinantikan adalah jalan-jalan dan berwisata.

Apakah salah? Seharusnya tidak salah. Bahkan, tak ada salahnya sama sekali. Karena itu hak setiap orang. Apalagi setelah capek berkegiatan saat konferensi.

Boleh kita jalan-jalan di luar negeri tempat kita ikut konferensi. Bahkan seingat saya, penyelenggara konferensi juga berkolaborasi dengan travel lokal untuk mengantar peserta jalan-jalan (dengan cost tambahan).

Namun, apabila kita ikut konferensi dengan pembiayaan dari instansi, ada syaratnya.

Seharusnya, boleh-boleh saja jalan-jalan dan wisata, asal kita benar-bener serius dulu ikut konferensi. Jalan-jalan dan wisata itu harus diposisikan sebagai “kegiatan tambahan dan opsional pasca-konferensi selesai”. Bukan sebaliknya, “yang penting nanti wisata, ikut konferensi ala kadarnya saja.”

Nah, dalam kasus oknum P di ISPPD ini, tampaknya motivasinya terbalik, “Yang penting ke luar negeri dulu, jalan-jalan dan wisata, urusan konferensi mah ngawur saja nggak papa. Toh, nggak bakalan diusir juga.”

Dan memang terjadi. Tampaknya para oknum ini bener-bener presentasi ala kadarnya. Bahkan poster yang mereka tempelkan benar-bener kelihatan tidak niat. Kesannya, “yang penting ada aja.”

Asumsi saya, mereka tampaknya tahu betul celah mendapatkan pembiayaan konferensi agar bisa jalan-jalan ke luar negeri gratis dengan modal riset palsu buatan AI.

Dulu saya ikut konferensi juga gratis (dibiayai Negara). Tapi, penelitian saya benar-benar serius, saya tulis dari nol, manual tanpa bantuan AI sama sekali, ada datanya, bisa dipertanggungjawabkan, analis dan proses pengambilan datanya terdokumentasi, bahkan sekarang artikelnya sudah terbit di jurnal internasional Q2—dengan berbagai revisi, beberapa masukan juga berasal dari konferensi internasional yang saya ikuti. Cek artikel disini.

Saat konferensi, saya hadir di semua sesi. Tiga hari penuh di semua Workshop (termasuk Workshop tips publikasi yang tidak wajib diikuti) dan juga sesi pleno. Lima kali saya bertanya (dua kali di workshop besar dan tiga kali di pleno). Ya, meskipun dengan bahasa Inggris seadanya.

Saya merasa, “Mumpung di forum besar, saya harus ungkapkan rasa penasaran saya ini.”

Punya mental “gratisan” sebenarnya tidak terlalu masalah. Akan jadi masalah saat mental itu dibarengi dengan sifat oportunisme dan egoisme pragmatis.

Siapa yang Rugi?

Dari kasus ini, yang dirugikan sebenarnya bukan individu secara spesifik. Namun,

  1. Nama “Indonesia” bisa jadi sedikit tercemar sebagai negera yang penelitiannya abal-abal;
  2. Institusi yang “tidak tahu apa-apa” ikutan tercemar sebagai institusi yang mendukung riset palsu;
  3. Penyedia grant (pemberi hibah penelitian atau konferensi) kehilangan uang untuk didistribusikan kepada orang yang lebih berhak;
  4. Ada efek domino “kepalsuan” bila riset palsu yang selama ini mereka paparkan dan publikasi, ternyata diteliti oleh orang lain atau bahkan diterapkan, mengingat topiknya cukup serius;
  5. Secara tidak langsung, memberikan ide bagi oknum lain dan memberikan rasa mawas terhadap pelaku lain untuk lebih berhati-hati saat menipu.

Lebih dari itu, orang yang paling rugi dalam kasus ini adalah pelakunya sendiri. Berbagai skenario netizen tentang hukuman yang paling pas menjadi bahan diskusi. Memang sudah seharusnya begitu. Oknum secara sadar betul telah melakukan semua itu, artinya sudah siap menerima konsekuensinya.

Btw, banyak yang mengungkap bahwa oknum yang melakukan adalah mahasiswa berprestasi. Ya, tapi itu soal lain. Dalam kasus ini, si oknum telah secara sadar betul melakukan tindakan tidak terpuji, maka minimal harus ada sanksi etik penelitian dan akademis. Selain untuk efek jera, kasus ini harus jadi pembelajaran bagi masyarakat Indonesia—khususnya akademisi.

Masih Banyak Oknum

Kita harus jujur, oknum-oknum penipu di dunia akademik bukan hanya mereka. Banyak sekali!

Motifnya tentu bermacam-macam, yang jelas mereka berusaha “mencairkan dana” dengan berbagai cara-cara yang busuk. Beberapa memang tidak se-ekstrem oknum dalam kasus ini, namun di mata saya tetap busuk dan menipu.

Oknum semacam ini akan terus ada, maka monitoring dan evaluasi sangat penting. Apalagi dengan pesatnya perkembangan AI, penelitian akan lebih mudah dibuat-buat, difabrikasi, dan dimanipulasi. Poles-poles abal ini akan merusak esensi dari penelitian itu sendiri.

Penyedia grant harus memperketat output dari hibah dana konferensi internasional. Intinya, bagaimana pendanaan itu benar-benar jatuh ke peneliti yang benar, berani bertanggungjawab, menjunjung etika penelitian, dan tentunya punya hati untuk menjaga integritas bangsa. Bukan oknum-oknum jahat dengan riset palsu mereka.

Idealnya, penelitian yang tidak dipublikasinya memang tidak ada gunanya (Bipeta, 2025)2, namun penelitian palsu yang dipublikasi tidak hanya tidak berguna, tapi merusak, merugikan, dan menghancurkan.

Referensi:

  1. https://educationconference.tiikm.com/education-2024/ ↩︎
  2. Bipeta, R. (2025). Research That Is Not Published Is Not Worth Doing. Indian Journal of Psychological Medicine, 47(5), 421–426. https://doi.org/10.1177/02537176251377594 ↩︎

Reaksi Anda?
+1
2
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
Bagikan:
mas nur huda
HUDA

Sekarang masih nganggur, besok nggak tahu. Kadang suka nulis, kadang suka tidur, kadang suka ngayal, ya gitu aja sih. Moto hidup, "Jangan kebanyakan bermoto"😅

Articles: 27

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *